Headlines
Loading...
HOME NASIONAL DAERAH TUBABA PESAWARAN SUMSEL ASAHAN
Dimana Sang Walikota Saat Warga nya Kelaparan

Dimana Sang Walikota Saat Warga nya Kelaparan


Bandar Lampung (Timenews.id) -- Pengobatan gratis yang digadang-gadang Walikota (non aktif) Herman HN cenderung dikenal melalui media luar ruang seperti Bilboard baleho dan pemberitaan media, hal itu terbukti dengan kondisi keluarga Wiji meski kediamannya bukan berada di perbatasan Kota Bandar Lampung namun belum pernah mendapat layanan gratis.Bukan hanya pengobatan, untuk mencukupi kebutuhan pangan keluarga Wiji hanya mengandalkan uluran tangan tetangga.
Deden Hermanto warga setempat menyesalkan tidak adanya pihak Pemkot Bandar Lampung yang tergerak memberikan bantuan, menurutnya  urusan kesejaheraan masyarakat bandar Lampung hanya menjadi alat membangun citra positif  guna kepentingan tertentu.
“ Sudah pernah ada warga yang melaporkan ke Kelurahan tapi tak mendapat tanggapan, kalau memang Pak Herman yang katanya sudah terbukti mensejahtrakan warga, mengapa masih ada warga yang kelaparan juga tidak pernah merasakan pengobatan gratis.Seharusnya hal sperti itu jangan dijadikan komoditas yang mempunyai nilai jual hanya sekdar membangun citra,”ucap Deden, Jum’at (16/03).
Dia mengatakan, Warga Bandar Lampung taj hanya cukup makan slogan atau jargon yang terpampang megah di beberapa sudut kota serta tidak dapat disembuhkan hanya dengan himbauan atau pemberitaan media yang cenderung dibesar-besar tentang pengobatan gratis.
“ Apa iya warga miskin bisa kenyang makan baleho,bilboar juga spanduk dan bisa sembuh hanya dengan melihat slogan dan jargo serta membaca berita, perlu aksi nyata dan ini tanggung jawab Walikota,”keluhnya.
Sebelumnya diberitakan, Satu keluarga sangat miskin di Jalan Purnawirawan Gang Swadaya Murni Kelurahan Gunung Terang Kecamatan Langkapura Kota Bandarlampung diketahui sering kelaparan.
Keluarga tersebut adalah, Wiji selaku Ibu yang kondisinya sedang sakit, Yopi Irawan sebagai anak yang bekerja serabutan dan Dedi yang mengalami gangguan jiwa. Hal tersebut di ungkapkan  warga sekitar, Sugi. “Mereka ini sering kelaparan, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari hanya mengandalkan uluran tangan warga sekitar. Karena, Yopi kerjanya serabutan. Terkadang ada kerjaan kadang juga nganggur, ” kata Sugi, Jumat (16/3).
Diungkapkan, selain sering kelaparan, keluarga Wiji juga tidak pernah mendapat bantuan medis atau pengobatan gratis yang diprogramkan oleh pemerintah Kota Bandarlampung. “Yang sangat miris, Wiji dan Dedi kan sakit tapi tidak pernah ada dari kelurahan atau pemerintah kota memberikan bantuan pengobatan gratis. Mereka untungnya masih ada bantuan dari warga sekitar, meski masih belum bisa memenuhi kebutuhannya, ” terang dia.
Selama ini, tegas Sugi, memang pernah mendapat bantuan dari pemerintah Kota Bandarlampung.”Ya kalau bantuan memang keluarga Wiji tercatat sebagai penerima beras raskin, tapi saat akan menebus beras tersebut mereka tidak memiliki uang. Akhirnya ya gak bisa beli beras raskin di kelurahan,” terang dia.
Warga sekitar kerap membantu dengan memberikan sedikit makanan dan baju layak pakai. Yopi juga sering dipekerjakan oleh lingkungan sekitar meski tidak setiap hari. Sayangnya, bantuan dari pemerintah Kota Bandarlampung belum ada yang diterimanya. Padahal, segala upaya yang diajukan sudah dilakukan guna mendapat bantuan yang dimaksud. Kondisi rumah keluarga Wiji juga sangat mengenaskan, selain bocor ketika hujan, dinding dan lantai hanyalah apa adanya. (*/PN)