timenews.co.id


Bandar Lampung (Timenews.co.id) -- Gagal pahamnya pihak ketiga Lampung fair 2017 yakni PT. Grand Modern yang tidak memberi ruang lebih pada gelaran budaya dan lomba di ajang tersebut menjadi kontradiktif dengan tujuan Gubernur Lampung dalam memajukan Pariwisata dan pelestarian budaya.Mirisnya, selain dominasi budaya luar pihak ketiga cenderung lebih berorientasi bisnis.
Ketua adat Negeri Olok Gading M.Yusuf Erdiansyah Putra prihatin dengan tidak pekanya pihak ketiga terhadap kearifan lokal dengan lebih memilih budaya luar daerah sebagai kontes.
“Waduuh, seharusnya Dinas Pariwisata lebih selektif dan memberikan masukan kepada pihak ketiga yang bertanggungjawab sebagai panitia kegiatan. Sejatinya agenda besar seperti itu mampu menjadikan budaya Lampung sebagai tuan rumah di negeri sendiri, ini jangan kan diberikan porsi lebih, yang ada justru kami lihat panitia jor-joran melakukan promosi untuk lomba Reog dan Kuda Lumping itu,”kata Legislator Hanura, Sabtu (16/12).
Dia menegaskan, pihaknya tidak alergi dengan budaya lain karena tak dapat dihindari jika Provinsi Lampung daerah heterogen, berbagai macam suku, dapat ditemukan di Bumi lada.
Adanya budaya luar Lampung yang berkembang, merupakan konsekuensi logis betapa majemuknya Bumi Rua Jurai dan hal itu harus dihargai serta di hormati oleh semua pihak.
“ Tak yang salah dengan Reog ataupun Kuda Lumping, kami tidak alergi dengan budaya saudara kita dari luar Lampung, namun untuk kedepan tidak terjadi lagi seperti ini, kami respek dengan budaya luar yang ada di Lampung, jadi tak ada salahnya jika kearifan lokal lebih dominan apalagi itu tujuannya untuk melestarikan tradisi,”tegas Gusti Pangeran Igama Khatu.(Tim/Pnm)